Dengung kecaman belum surut terdengar. Apalagi di dunia maya. Blogger ataupun facebooker rame-rame menyatakan sikap keras kepada Malaysia. Slogan Ganyang Malaysia kembali terdengar setelah sekian lama tenggelam oleh hubungan diplomatik yang dijalin erat.
Mengapa begitu banyak kecaman? Padahal belum tentu pada pengecam itu paham apa yang sebenarnya terjadi. Jika di Indonesia telah gencar isu klaim-meng-klaim ini, di Malaysia malah adem ayem saja. Tidak ada pemberitaan gencar seperti di Indonesia.
Klaim tari pendet sebagai jargon pariwisata Malaysia sesungguhnya adalah sebuah trik pemasaran. Hal ini untuk mendongkrak kunjungan wisatawan asing ke sana. Padahal belum tentu di sana tari pendet benar-benar disajikan.
Mengenai klaim-klaim wilayah, hal ini sudah lama menjadi perdebatan. Namun secara garis besar ini bisa dirumuskan sebagai kerjaan korporasi asing yang berkepentingan atas wilayah itu, dalam hal ini adalah para raksasa minyak dunia. Indonesia dan Malaysia kemudian berebut hak kelola, yang kemudian justru akan diberikan kepada pihak asing.
Hal ini menuntuk kita berpikir dengan kepala dingin. Jangan mudah tersulut emosi karena semuanya hanya akan memperburuk keadaan. Jika kita merasa budaya kita dicuri, maka lestarikanlah. Jangan biarkan orang mengambil budaya kita yang telah kita abaikan. Bangsa yang besar bukanlah yang menciptakan kebudayaan, tetapi yang melestarikannya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar