Indonesia dikenal sebagai bangsa yang beragam dan menjunjung tinggi keberagaman. Namun, implementasi kalimat Bhinekka Tunggal Ika belumlah mengakar dalam masyarakat. Betapa sulitnya menyatukan masyarakat bahkan dalam satu suku bangsa pun. Namun, fenomena isu Malingsia akhir-akhir ini memberikan refleksi bagaimana persatuan itu diwujudkan.
Bangsa ini cenderung mau melupakan sekat-sekat yang memisahkan mereka, mengkotak-kotakkan masyarakat jika merasa mempunyai musuh bersama. Dalam kasus ini adalah Malaysia dengan klaim-klaimnya. Kita bisa lihat bagaimana masyarakat dari semua golongan menyatakan sikap keras kepada Malaysia. Bahkan, dunia maya sebagai ajang pertemuan seluruh elemen masyarakat penggunanya telah sampai pada taraf perang.
Perang kata-kata dan adu argumentasi adalah hal umum yang ditemui pada net-citizen kita menyikapi kondisi akhir-akhir ini. Meski agak reda oleh tragedi gempa Tasikmalaya. Mengingatkan saat zaman perang dahulu. Mengutip Kompas Minggu 6 Sept. 2009, dahulu jika ada kubu yang berselisih dan seorang datang mengatakan, Lihat, Belanda datang!. Maka serempak mereka menghentikan perselisihan dan segera siap perang. Lalu apa yang akan terjadi bila dikatakan Lihat, Malaysia mulai mengiklankan budaya kita lagi!?
Seperti kata Saykoji, hadapi semua dengan kepala dingin
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar