Jumat, 28 Agustus 2009

Karzai Unggul, Pemilih Terpecah

Persatuan Afganistan Sulit Diwujudkan
Jumat, 28 Agustus 2009 | 05:13 WIB

Kabul, Kamis - Presiden Afganistan Hamid Karzai mengungguli rival terkuatnya, mantan Menteri Luar Negeri Abdullah Abdullah, berdasarkan hasil perhitungan sementara pemilu presiden. Hasil pemilu menunjukkan terpecahnya rakyat Afganistan ke dalam dua kelompok besar.
Berdasarkan 17 persen surat suara yang sudah dihitung, atau sekitar 1 juta suara pemilih pada pemilihan umum presiden Afganistan, 20 Agustus, Karzai yang didukung pemerintahan negara-negara Barat mendapatkan 42,3 persen suara, sedangkan Abdullah 33,1 persen suara.
Calon presiden lainnya, Ramazan Bashar-dost, seperti dilaporkan Aljazeera, menempati urutan ketiga dengan 11 persen dukungan. Sisanya terbagi di antara beberapa kandidat lain.
Komisi Pemilu Independen (IEC) yang bertugas melakukan penghitungan suara, Kamis (27/8), menegaskan tidak akan mengeluarkan angka baru sebelum hari Sabtu (29/8). Juru bicara IEC, Marzia Siddiqi, mengatakan, penghitungan akan diteruskan Kamis, tetapi hasilnya tidak akan diumumkan.
Meski para pejabat IEC meminta agar tidak mengambil kesimpulan dari angka-angka yang dikeluarkan sejauh ini, angka-angka tersebut menunjukkan rendahnya tingkat partisipasi rakyat Afganistan pada pemilihan umum presiden kedua negara itu, pascajatuhnya pemerintahan Taliban.
Dari 17 juta pemilik hak suara yang terdaftar, hanya sekitar lima juta pemilih yang menggunakan hak mereka. Tingkat partisipasi yang hanya sekitar 30 sampai 35 persen itu memunculkan pertanyaan mengenai legitimasi siapa pun yang terpilih menjadi presiden.
Meski demikian, sejumlah kalangan menyikapi rendahnya tingkat partisipasi itu dengan pandangan yang berbeda.
”Saya rasa rakyat Afganistan telah menunjukkan dengan jelas kepada Taliban, meskipun banyak ketakutan yang mereka (Taliban) ciptakan sebelum pemilu, seperti ancaman-ancaman, serangan-serangan, surat-surat pada malam hari, bahwa rakyat ingin memilih,” kata Nader Nadery dari yayasan Free and Fair Election, Afganistan.
Bahkan dalam lingkungan yang diwarnai pertempuran, seperti Baghlan, Logar, Paktia, Zabul, dan Helmand, dia menambahkan, rakyat tetap pergi ke tempat-tempat pemungutan suara dan meminta untuk bisa memilih ketika perang berhenti.
”Bandingkan respons rakyat itu secara seimbang dengan tingkat ancaman dan ketakutan dari Taliban, dan pesan kepada Taliban jelas bahwa taktik kalian tidak berhasil,” papar Nadery.
Gagal capai tujuan
Pengamat Afganistan, Haroun Mir, mengatakan, Taliban justru berhasil menggagalkan pemilu dan mengganggu proses demokrasi.
”Alasan kita mengadakan pemilihan adalah untuk memberikan legitimasi kepada pemerintah dan kita telah gagal mencapai tujuan itu,” ungkapnya.
Dia menambahkan, Taliban telah menggagalkannya, mereka memaksa rakyat tetap berada di rumah masing-masing.
Di banyak tempat, intimidasi kampanye memang berhasil mencegah pemilih untuk menggunakan hak mereka. ”Di desa saya ada lebih dari 6.000 orang. Hanya tujuh yang memilih,” ungkap Mansour Stanikzai dari ibu kota Logar, Pul-i-Alam, di selatan Kabul.
Mir menambahkan, lambatnya pengumuman hasil bisa memberikan kesempatan kepada Karzai dan para pendukung internasionalnya untuk berkompromi dengan Abdullah.
”Kita bisa berakhir dengan situasi pembagian kekuasaan. Ini sangat terpecah, Abdullah di Utara dan Karzai di selatan. Pemilu ini telah menunjukkan bahwa rakyat Afganistan tetap sangat terpecah. Kita mengarah ke suatu krisis politik,” kata Mir.
Banyak warga Afganistan juga percaya terjadi kecurangan- kecurangan pada pemilu kali ini sehingga hasilnya akan sulit diterima. (AFP/Reuters/OKI)

Tidak ada komentar: