skip to main |
skip to sidebar
Tradisi Ngabuburit Para Wali
Rabu, 26 Agustus 2009 - 17:04 wib
Buka puasa dengan makan bubur
BANTUL - Adzan Magrib belum berkumandang sebagai tanda berbuka puasa, namun anak-anak hingga para remaja sudah berkumpul di Masjid Sabilurrosyad di Dusun Kauman, Wijirejo, Pandak, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Mereka terlihat gelisah dan tak sabar.
"Waduh lapar banget, perutku sudah mulai keroncongan nih. Masih lama buka puasanya," gerutu Ratih (9) sambil sesekali melihat jam dinding yang tidak terlalu besar di serambi masjid itu.
Sudah menjadi tradisi di kampung Kauman tersebut setiap datang bulan suci Ramadan banyak anak-anak,
remaja sampai orang tua datang ke masjid. Kedatangan mereka tak lain ingin menikmati sajian buka puasa berupa nasi bubur.
Hal itu sudah menjadi tradisi masyarakat Kauman sebagai tinggalan para wali yang masih tetap dipertahankan hingga kini. "Menurut cerita, tradisi menyantap bubur saat bulan puasa ini dilakukan sejak abad 15 Masehi saat Panembahan Bodo menyiarkan agama Islam di wilayah ini. Untuk menghormati para wali kita tetap pertahankan tradisi ini," terang Sektretaris Takmir Masjid Sabilurrosyad Drs Haryadi, Rabu (26/8/2009).
Diambilnya makanan bubur oleh para wali zaman dulu karena bubur dikenal memiliki banyak sekali makna maupun simbol yang digunakan sebagai salah satu ajang untuk berdakwah. Kata bubur sendiri memiliki kandungan filosofi kalau ajaran Islam disampaikan secara halus seperti laiknya bubur.
Atau bubur juga memiliki makna "babar" artinya rata atau "beber" yang diartikan membeberkan, terutama dalam membeberkan ajaran Islam itu sendiri. Prinsipnya dalam mengajarkan Islam yang dilakukan para wali sehingga dapat merata (babar) di kalangan masyarakat.
Ikut berbuka puasa di Masjid Sabilurrosyad seperti halnya menyelamai dan mengenang ajaran para wali. "Memang makanan bubur sangat baik dimakan saat buka puasa. Karena sifatnya yang halus dan mudah dicerna sehingga perut lapar tidak akan kaget saat menampung maknan," lanjut Haryadi.
Untuk persediaan buka puasa ini, pihak takmir telah menyediakan sekira 3 kg beras per harinya. Jumlah ini akan menghasilkan sekira 45 sampai 50 porsi bubur. Dari tahun ke tahun jumlah masyarakat yang ikut ngabuburit bertambah banyak. Hal ini membuktikan berbuka puasa degan bubur masih cukup diminati kalangan masyarakat luas. (mbs)okezone.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar